Minggu, 17 Januari 2016

BELAJAR TERSENYUM

Pagi adalah waktu yang tepat untuk tersenyum, melihat sekerumun embun pagi dan matahari yang memperlihatkan keagungan. Tidak sedikitpun nikmat yang terlewatkan pagi ini, hingga akhirnya alam pun tersenyum kepadamu.

Pagimu hanya datang sekali dengan siraman kasih yang jelas-jelas nyata adanya, bila engkau lupa cara untuk tersenyum, Ingatlah pedih yang dulu pernah singgah, maka lihatlah betapa lucunya wajah konyolmu yang panik waktu kau terlihat bodoh
.
Bukan hanya semata untuk belajar berjalan kedapan, tapi belajarlah untuk menjadi palsu bila engkau enggan untuk menjadi asli saat pedih itu datang. Belajar lah dari bunga bangkai yang menarik namun busuk aslinya, seperti pelangi yang penuh warna namun tidak ada wujud aslinya, dari iklan rokok yang tidak ada maknanya dan dari mimpiku yang tidak pernah jadi wujud.

Belajarlah menangis sebelum engkau benar-benar tersenyum nantinya, tangisilah keiklasan sepi malam harimu tanpa ada tangan-tangan tuhan yang menyentuh hatimu, yang menjamah lukamu dan merobek sedih masa kelammu. Karena tuhan hanya hadir pada setiap bait doa-doamu.

Tuhan punya cara untuk mengajarimu tersenyum, cara yang tidak pernah engkau bayangkan sebelumnya. Dimana tangis penggiring bahagia dan kehilangan pembawa perubahan. Meski engkau tidak mampu mengeja notasi dari lagu kesukaanmu, tidak mampu menggapai waktumu hingga saat yang tepat datang dengan keterlambatanmu yang nantinya hanya senyum yang hadir saat akhir cerita dongeng hidupmu.

Tersenyumlah saat kau merasa terabaikan dunia, dengan langkah kaki kecilmu yang menapaki jejak-jejak kehadiran rumahmu, merasuk tulangmu dengan hujaman cercaan mereka yang lupa akan sinarmu. Redupkan lampu kamarmu pejamkan matamu dan jangan sampai teteskan air matamu, kerena hanya begitu engkau belajar menjadi baja yang di tempa dengan luka. Dengan itulah engkau mampu membungkam mereka yang lebih hina dengan hinaan mereka.


Tersenyumlah dengan iklas pedihmu dan tersenyumlah dengan palsumu maka engkau mampu membedakan mana luka dan mana suka, hingga duka enggan hadir dalam hatimu yang kuat dan tegar.

jmb 10-01-16

Sabtu, 09 Januari 2016

Hitam Pendewasaan

Hitam adalah hal terindah meski selalu di indahkan, dan malam serta merta menjadi alas dari seumpama kelam. Terlelap mampu menjadi indah barangkali, selama mata mampu terpejam akan hitam yang engkau sebut dosa.

Mulut terkadang mampu mendosakan hingga di dosakan, seakan suci yang hadir dalam diri yang kelam. Tidak ada setetes putih yang terjamah oleh kelam masa lalu hitam yang di indahkan, bahkan siang seakan bergelimang dorongan kuat untuk berbuat. Tangan yang selalu berkelana menjamah, mata yang selalu bertualang melihat dan mulut selalu merasa rasa hingga terlena tanpa arah yang mungkin.

Ada beberapa hal yang patut diingat dan diingatkan, atas semua jamahan yang bergelimpangan dengan keangkuhan masa lalu, seakan dulu masa dimana tanpa percaya akan yang satu. Terkadang hanya perlu melihat masa depan tanpa ramalan hanya asumsi. Dalam serpihan-serpihan hati yang begejolak hingga saat dimana ingin merubah hitam menjadi putih yang mustahil.

Bukankah tuhan tahu akan dirimu yang setitik hingga sebongkah ?, jangankan ujung rambut, sel-sel atom yang membentukmu ia sangat hafal.

Buakankah tuhan maha pengampun dari segala ampun ?, bahkan hitam itu bisa berubah menjadi putih yang mungkin.


Jadilah hitam adalah dosa sebagai pendewasaan hingga didewasakan, bukan didewakan oleh hitam yang angkuh. Hingga dituduhkan lidah tanpa tulang yang hanya tau akan dulu bukan putih yang sekarang.

Jumat, 08 Januari 2016

Tangan Tuhan

Aku adalah sisa makanan yang jatuh dari cawan putih yang ada di atas meja itu, seakan mudah untuk disapu dan di bersihkan dari kumpulan debu dan pasir yang bergelimpangan hingga berujung diteras rumah yang senja. Separuh kepingan-kepingan mulai berserakan bak harap tidak beruntung dan mengasing, akan di angsur mulai menghilang dan terlupa hingga saatnya akhir tidak berguna.

Aku bagaikan malam-malam tanpa bintang yang tidak pantas untuk dipandangi, hingga mendung pun lebih mahal dari ini, dan insan tak  rela untuk memandangiku meski separuh mata. Seluruhnya mungkin melayang dan hingga akhirnya tergantikan oleh mendung yang hujan, basahpun tidak mampu memantulkan bayangan malam tanpa bintang yang tersebut.

Hanya mimpi bagaikan mampu melayangkan serpihan tumpahan sisa makanan yang ingin menjadi lebih berguna dari akhir di beranda rumah tanpa peduli, akankah ia menjadi makanan ayam yang akan merasuk kedalam darah dan menjadi daging hingga nantinya akan dimakan insan ?. bahkan mampu merasuk kepikiran mereka untuk mengubah keadaan malam-malam tanpa bintang menjadi semenarik taman bunga untuk dipandang lalu menjadi memori indah nantinya di akhir senja.


Bahkan karbondioksida bisa menjadi sangat berguna dan menjadi wajah baru yang segar untuk dihirup, menjadi asing bila tumbuhan tidak berharap mampu memburunya untuk diubah. hingga seekor nyamuk bisa mendatangkan banyak uang untuk dibunuh. Ya, tidak ada hal yang tidak berguna walau tidak terlihat sekalipun, hanya saja tangan-tangan tuhan menggiring dengan cara berbeda dan membedakan, sangat adil bagi setiap inci kehidupan.

jmb, 7 jan 16

Selasa, 05 Januari 2016

Gadis Garis Hijau


Aku dan separuh raga yang terhempas matahari senja, mengalir menjadi saksi dalam ucapan manis dan sedikit terasa pahit dengan garam seadanya. Menyaksikan padamnya matahari menjadi serpihan gelap diiringi bintang yang tidak seberapa adanya. Waktu kecil aku sering kesana menyaksikan air yang mulai menggila di tepian pantai yang berada di kota kelahiranku, waktu itu aku melihat burung dan angin menjadi satu hal yang sangat menabjukkan. Seperti menatap matamu yang dibungkus beningnya intan berlian sehingga membuat bibirku kaku tidak mampu bergerak, seakan terkunci rapi didalam buku harianku.

Waktu itu genggaman tanganku masih terisi oleh pensil dan pena, yang bisa menuliskan keraguan seakan mengekang hati. Terkurung disangkar yang masih membungkusku. Kau adalah bias yang kuharap dalam kurun waktu lama. Datang dari kesempatan yang disengajakan hingga kini aku merahasiakannya dari telinga mereka.

Aku adalah angin yang ingin menjadi nyata meski banyak yang mengharapkan angin itu. Biarkan buliran buliran debu itu menurunkan sekelebat keraguan. Karna ragu adalah jalan yang sangat nyata dari kehadiran indah nantinya. Wahai hati yang tidak sengaja mendekat, janganlah kau diam saja, aku berharap kau selalu ada dihadapan percakapn garis hijau itu dan menjadi selalu.

Untuk pertanyaan yang tidak terjawab, akankah jawaban itu kau simpan pada pria ini yang masih di balik tirai. Seseorang yang memandang kagum dibalik jendela kembar kebatas rindu untuk mulai menyapa namun ragu dan menjadi malu. Sekelebat pikiran terlintas dalam benak bahwa gadis garis hijau itu seperti matahari senja, atau fatamorgana yang hanya ada menjadi mungkin.

Kemampuan kata kerja dan kata sifat bercampur di balik sepercik redupnya bintang bintang yang di pantulkan cahayanya oleh air laut, aku sudah menjadi buih yang datang lalu hilang hingga sirna nantinya. Kembali teringat senja dilaut kota kelahiranku sangat menjadikan jantung ada dan perpacu bila menatap raut wajah anggun di garis hijau itu.

Sampai nanti suatu ketika yang tidak disengajakan kembali datang,
Sampai senja yang kita nikmati nantinya menjadi ada,

Bila serpihan buih itu hadir kembali di depan gadis garis hijau datang dan hilang kembali, menjadikan separuh menjadi setengah hingga penuh ke dalam tempat yang ada.

JMB1.1.16

Rabu, 21 Januari 2015

Warna Indah Kesukaanku


Suatu ketika aku merasa merah adalah warna yang indah
Ketika suatu hal yang membuatku berani menjadi
Entah apapun itu, merah lah yang paling indah bagiku
Seperti bibir merahmu yang merona, bukan hitam pastinya

Namun merah tidak lagi dapat ku pandangi hingga matahari mulai meraung
Menyajikan terik namun menusuk hingga ketulang
Saat itu aku melihat warna coklat lah yang paling ku gemari
Seraya memandangi langit senja yang merah mulai menjadi coklat kemegahan
Entah mengapa aku hanya terhanyut di derasnya sungai yang mengalir
Seperti terhipnotis kedipan mata indahmu, dan menjadi nyata seumpama,

Dan ketika malam tiba dengan sekejap
Menyajikan suasana yang sangat mencekam dalam dingin
Seumpama kertas yang dibasahi oleh keringat dingin
Nanar terasa, sangat mengusik kepalaku yang mulai menyajikan Tanya
Mengapa hanya hitam yang terlihat sangat pekat
Seakan menarikku untuk menjauh dari warna coklat yang kusuka

Tanya itu datang kembali seraya mataku mulai mendelik bintang
Menakan hingga aku terbanting dalam sudut yang gelap
Tidak seperti palsunya cahaya bulan yang semu namun menggoda
Ya….. mata ku mulai lelah menatap hitaam,
Hingga aku mulai menyukainya dan menerimanya untunk mengganti warna coklat

Sambil berjalan menelusuri gelap malam
Aku mulai memperhatikan lampu taman dan duduk di bangku kosong itu
Dedaunan yang bergoyang di tiup angin pun bertanaya
“hay pemuda, mengapa kau sendiri sedangkan bintang tak sendiri”
Tertegun mulai dan diam menajadi, hingga membisu dalam hening
Tanya itu muncul kembali dalam benak yang sangat penuh
Apa, mengapa, dimana dan siapa, mulai hadir kembali

Hingga aku teringat warna merah kesukaan ku dulu
Warna yang mumbuat ku berani hingga menjadi hangat
Dimana aku melepas tawa saat menatap merah
Namun aku masih di dalam malam yang berwarna hitam
Mungkin hitamku tidak sehitam pekatnya malam

Hingga tiga dini hari aku masih merasakan hitam
Meski dinginya melebihi malam barusan.
Terbesit dalam benak, warna birulah yang kunanti
Seperti langit pagi yang memancarkan kebahagiaan
Separuh hati tidak akan ada hingga kembali kepadaku kelak
Meski biru agung membawa tawa, aku harap itulah warna kesukaanmu

Dimana bahagia yang kuharap terpancar di merah bibirmu
Dan tersirat jelas di coklat matamu yang kusuka
Hingga hitam dimalam hari tidak meneteskan air di coklat matamu
Bahagialah wahai warna kesukaanku
Dan seumpama tanpa ada tangan tangan pribadiku menyertaimu.
Yaa, Setidaknya aku pernah suka warna merah, coklat, hitam dan biru.


(11.1.15)

Rabu, 07 Maret 2012

“SYAIR GUNDAH”




Hati yang kembali terguncang dalam  rasa
Mulai menghujam jantung dengan kemelut
Beranjak dari peristirahatan yang tenang
Dan kembali hadirkan kegelisahan dalam pilihan
Dimana warna warni menghampiri dalam sepi
Hadirkan gundah yang menghanyutkan tenag.
Langkah itu mulai terhambat dan menghalangi kaki
Kemelut dalam otak untuk memilih dalam ikatan
Kepastian demikian di sebutkan dalam siratan
Yang harusnya menjadi suatu yang suci dan murni
Hingga tampak dalam asa yang menjelaskan cinta

Ini bukan aku……
Bukan pilihan yang membebani
Namun perasaan yang harus di jaga

Itu bukan sebuah rasa….
Ketika sang fajar menjadi dua
Dan akupun mulai memahami siratan

Serpihan hati dalam suara rintihan khayal
Menempatkan diri ini di posisi tersulit
Meresahkan jiwa jiwa yang tersakiti
Mulai menggerogoti di sudut pandang
Terhempas dalam suatu perasaan yang di sebut gundah

Sejujurnya aku telah lama merasakan sepi
Namun bukan ini yang ku harap,
Dalam memilih tidak sesederhana hitungan
Yang hasilnya sudah pasti di dapati
Namun memilaih bukanlah hal yang real di dapatkan

Ini bukan aku……..
Bukan menyebrang dari hati ke hati
Bukan sebuah kesungguhan dalam cinta

Ini bukan sebuah rasa…….
Ketika sang bulan mulai tersenyum
Dan kesempatan mulai menjauh

Menjauhlah menjauhlah……
Kegelisahan dalam warna yang hadir
Merah, putih, ungu, dan kuning
Menghujamku hingga diriku tertatih
Menunjukkan sembari menjatuhkan
Dan akupun takbisa memilih

Ini syair gundah dalam sebuah suratan
Yang tersirat membebani sang penyair
Bukankah itu sebuah langkah ??
03-07-12 RYPRJONA

Jumat, 07 Oktober 2011

"INILAH HIDUPKU"

terngiang bisikan ibu tentang hidup, memang semua tak semudah kenyataannya, tidak ada yang mengerti hidup selama kau masih seperti "Bocah" dalam berfikir dan dalam menanggapi masalah hidup mu. !!

Seiring waktu berlalu aku pun mulai mengerti indahnya sebuah kehancuran, karena aku mampu mengalihkannya menjadi ke indahan, dan aku mampu menangis di saat senang karena kesedihan telah mengajarkan diriku untuk bangkit.

Separuh nafas yang ku hadirkan dalam hentakan masalalu yang tidak pernah berjalan lurus, bagaikan "semut" yang kehilangan gerombolannya, tidak tau arah mana yg akan di tuju, akan tetapi aku kembali di ingati oleh keterpurukan sehingga sadar pun menjamah relung hati ini.

Di kala sedih aku tersenyum puas, karena aku sadar akan hadirnya tangan tangan "Tuhan" yang selalu mendekap erat jiwa dan raga dengan curahan kesempurnaan untuk umatnya yang mengingatnya sehingga aku menemukan arti kata "Cinta".

Di saat gelisah aku pun bernyanyi, nyanyian sajak hati penenang jiwa dan membaca "kitab" yang mewakili alam jagat kehidupan, lalu aku pun bersjud menyerahkan apa yang ku miliki "untuk yang satu"

Mungkin arti sebuah "cinta" tidak pernah ada persamaan di diri semua orang dan tidak mungkin ada yang mampu mencurahkan dengan sebuah kata kata, dan tidak bisa ditpahami akal sehat, namun bagiku "cinta" itu simpel seperti lima huruf yang tergabung menjadi satu ya itu cinta.
1. Kesempurnaan cinta itu adalah kasih sayang sang pencipta terhadap ciptaannya.
2. Keindahan cinta yang abadi itu "Ibu" tak bisa terlukis oleh perwakilan kata kata untuk mengungkapnya.
3. Kesolitan cinta itu adalah "sahabat" yang mampu mengurangi dilema saat kau butuh dan di saat kau senang dia pun turut berbahagia.
4. Ke hangatan cinta itu adalah terhadap kekasihmu dalam satu pandangan lain ya itu kehangatan cinta karena tuhan yang merestui dalam ikatan janji sehidup semati dan tak akan terpisah kecuali ajal yang memutus tali itu.
5. Kekuatan cinta itu adalah pelengkap dari semuanya itu lah dia "sang buah hati" yang membuat bangun tidurmu selalu lebih semangat karna kau akan menitipkan cita cita mu yang tidak terwujud kepadanya :')

Itu aku.
*RyPraJona*

Twitter Updates 2.2: FeedWitter